Dosen dan dua mahasiswa Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana, turut ambil bagian dalam buku berjudul, “Cerita Iklim dari Kaum Muda: Panggilan untuk Aksi Keadilan Iklim”.

Mereka adalah Yesaya Sandang, Ph.D. (Dosen Magister Studi Pembangunan), Kania Bening Rahmayna (Mahasiswa Magister Studi Pembangunan), dan Fiktor Yosua Lobo (Mahasiswa D4 Destinasi Pariwisata). Ketiganya menyumbangkan tulisan reflektif yang menggugah, lahir dari perjumpaan mereka dengan realitas krisis iklim, baik dari sisi keilmuan, aktivisme, maupun pengalaman lokal yang sangat dekat dengan masyarakat.

“Buku ini merupakan hasil kolektif Climate Justice Writing Camp 2024. Buku ini bukan sekadar antologi, tapi suara kolektif anak muda yang peduli dan bergerak”, ungkap Yesaya, Senin (21/7/2025). Dalam buku itu, Yesaya menulis tentang, “Mengintegrasikan Perspektif Hak Asasi Manusia dan Semangat Keberlanjutan Masa Depan dalam Menyikapi Isu Perubahan Iklim”.

Fiktor sendiri mengangkat permasalahan seputar kebijakan revolusi hijau pada era orde baru, yang merubah wajah pertanian tradisional di Indonesia ke pertanian yang berorientasi pada hasil untuk memenuhi swasembada pangan Nusantara.

“Hal itu mengakibatkan degradasinya lingkungan, dalam hal ini unsur hara pada tanah dan air yang makin hari makin terkontaminasi dari residu penggunaan bahan kimia seperti, pupuk dan pestisida. Ini bisa dilihat dengan penambahan jumlah pupuk dan pestisida kimia yang terus menerus dinaikan dosisnya”, tuturnya, Rabu (16/7/2025).

Lebih lanjut, Fiktor mengkritik kebijakan revolusi hijau itu dengan pendekatan agroekologi yang lebih ramah lingkungan dimana di kembalikannya sistem pertanian tradisional yang organik.

“Saya dan beberapa teman di desa mencoba merubah sistem pertanian dilahan kami dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menggantikannya dengan pupuk kompos yang kami buat secara bersama- sama, lalu POC hasil fermentasi”, jelasnya.

Kania sendiri melihat perubahan iklim dari sisi perempuan, terkhusus soal Ibu-ibu Nguter Sukoharjo dalam melawan polusi pabrik Rayon.

“Perempuan seringkali digolongkan sebagai kelompok rentan dalam masyarakat—disepelekan, dinomorduakan, dan jarang diberi ruang untuk bersuara. Padahal kenyataannya, perempuan mampu menjadi apa pun: mereka bisa memimpin negara, mengelola sekolah, dan bahkan berdiri di garda terdepan dalam perjuangan melindungi lingkungan”, kata Kania.

Salah satu contoh nyata, menurutnya, adalah perjuangan Ibu-ibu Nguter yang dengan berani melawan ancaman pencemaran lingkungan akibat limbah pabrik rayon di wilayah mereka. Mereka bukan hanya menjaga tempat tinggalnya, tetapi juga memperjuangkan hak hidup yang layak bagi generasi mendatang. (Yesaya/Kania/Fiktor/sam).

Untuk pemesanan lihat tautan berikut: https://www.instagram.com/p/DMCgymSxcSz/?igsh=ZTlkdGJmbXc0NnZk