Mengenal sosok Sejarahwan Onghokham lewat Dr. David Reeve, sahabatnya, memberikan nuansa yang segar dan menarik mengenai tokoh Indonesia itu. Hal tersebut disampaikan Reeve saat menjadi narasumber dalam bedah bukunya, “To Remain Myself: The History of Onghokham”, Kamis (9/3), di Gedung G, Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Ong, sapaan Reeve, untuk Onghokham mengalami fase hidup mejalani yang menarik, mulai zaman kolonial Belanda, penjajahan Jepang, masa revolusi, 1950-an dengan demokrasi parlamenter, demokrasi terpimpin, gestapo, dan pembantaian massal. “Dia tidak hanya mengalaminya, tapi sejak muda di sekolah dia berminat pada sejarah. Jadi dia melihatnya dari mata sejarahwan muda”, ungkap Reeve. Dan itu dikemudian hari di periode kehidupannya, menjadi topik-topik penting dalam tulisannya.
Reeve memberi contoh disertasi Ong di Universitas Yale, Amerika Serikat, “The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century”, yang dikemudian hari dipublikasikan ke dalam buku berbahasa Indonesia, “Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priayi dan Petani di Keresidenan Madiun Abad XIX”.
Sekembalinya dari Yale, Ong mengajar di UI dan akrab dengan media massa. Tulisan-tulisannya tersebar di sejumlah media. “Dia menjadi public intellectual di jaman itu”, lanjut Reeve. Diantara sejarahwan besar saat itu, hanya Ong yang menulis di media. Dan itu dianggap sebagai pelacuran intelektual. Karena bagi sejarahwan, menulis atau tampil di media merupakan sesuatu yang tidak berarti.
Mengenai komplesitas Ong juga menarik perhatian Reeve. “Pertama dia keturunan Tionghoa. Kedua, Tionghoa yang sangat berpendidikan Belanda. Dia tidak beragama, jadi orang ateis. Dia gay”, terang Reeve. Ong juga orang yang nyentrik, individual, dia selalu cari jalan sendiri dalam kehidupannya, dan tidak peduli dengan anggapan orang lain, jenaka, banyak tanya.
“Saya sangat berterima kasih kepada Ong, dia sangat terbuka. Dia bilang, tulis seadanya, David saya tidak mau mempengaruhi apa isinya, semua yang jelek tentang saya, Anda ucapkan. Bahkan dia suruh keluarganya untuk menceritakan semua yang jelek tentang saya kepada David. Mereka begitu kaget”, kata Reeve.
Berani terbuka mengenai kehidupan pribadi (inner life), membuat biografi Ong menjadi berbeda dengan biografi-biografi tokoh lain yang ada di Indonesia, maupun di dunia. “Jiwanya, perasaannya, kebinggungan, ketakutan, keterasingan, dan juga kebahagiaan, kemenangan. Itu semuanya ada buku ini”, imbuhnya.
Hadir sebagai penanggap buku tersebut, Dosen Fakultas Interdisiplin (FID) UKSW Dr. Rebecca Meckelburg. Rebecca menyebut bahwa buku itu membawa pembaca pada perjalanan yang tak hanya masalah pribadi, tapi juga perjalanan sejarah Indonesia. Perjalan sejarah ini menjadi penting karena menawarkan alternatif, di tengah distorsi dan reka ulang sejarah oleh rezim orde baru.
“Buku ini menjadi sumbangan karya sejarah yang penting, terutama ketika nanti dapat diakses oleh generasi muda Indonesia. Baik untuk teks popular, maupun sebagai teks akademik”, jelas Rebecca.
Acara yang selenggarakan oleh FID UKSW dan CSDS, dihadiri oleh Sivitas Akademika UKSW dan masyarakat umum. Sebagai moderator adalah Mahasiswa Program Studi Doktor Studi Pembangunan FID Aveanty Miagina.
Sebagai informasi, versi bahasa Indonesia buku “To Remain Myself: The History of Onghokham”, akan beredar dipertengahan tahun ini. Menurut Reeve, Gramedia berencana menerbitkannya. (sam).