Mahasiswa Program Studi Doktor Studi Pembangunan (DSP) Fakultas Interdisiplin UKSW Slamet Haryono, punya satu alasan penting mengapa memilih melanjutkan studi di DSP.
“Saya memilih Doktor Studi Pembangunan UKSW karena iklim akademis yang kritis prinsipil, hangat, yang memberikan kesempatan untuk berkolaborasi antara sesama mahasiswa dan dosen”, ungkapnya lewat bantuan DM Instagram, Kamis (30/3).
Di DSP, lanjut pria asal Wonosobo itu, dosen-dosennya sangat terbuka dan menggelitik mahasiswa untuk berdebat, berargumen, mempertanyakan segala hal secara mendasar untuk membangun kerangka berpikir yang kritis prinsipil.
“Dalam banyak kesempatan kita merasa bukan hanya sebatas dosen-mahasiswa, tapi sebagai kawan”, jelas Alumnus Magister Sosiologi Universitas Sumatera Utara itu.
Saat ini Slamet bekerja sebagai Manajer Kemitraan di PT Austindo Nusantara Jaya (ANJ), di Jakarta. Perusahaan itu bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Dia mengaku telah bekerja di ANJ selama 10 tahun.
Sudah bekerja, lalu kenapa memutuskan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi? “Agar dapat lebih memberikan kontribusi bagi bangsa ini, dalam konteks pembangunan perdesaan di bidang perkebunan kelapa sawit”, imbuhnya.
Slamet mengakui pendidikan sarjananya, yakni Biologi, tidak linier dengan S-2 dan kini S-3 yang sedang ditempuhnya. Namun, Alumni S-1 dari Fakultas Biologi UKSW itu punya alasan tersendiri.
“Paradigma sejalur itu yang aneh menurut saya. Karena permasalahan yang dihadapi di dunia nyata tidak akan cukup tuntas diselesaikan dalam satu paradigma keilmuan saja, mesti secara komprehensif dari berbagai bidang. Dalam konteks ini DSP memberikan kesempatan yang unik dalam menyikapi permasalahan, yaitu dengan paradigma interdisipliner”, tandasnya. (sam). (Foto: Slamet).