Pada hari Rabu (5/05/2021), Fakultas Interdisiplin (FID) bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM) Universitas Kristen Satya Wacana yang bertempat di Salatiga, Jawa Tengah mengadakan webinar untuk mengenang satu tahun kepergian salah satu dosen mereka Pak Arief Budiman. Arief Budiman adalah salah satu dosen yang dikenang tidak hanya sebagai akademisi, namun juga sebagai aktivis sosial yang berjuang menegakkan demokrasi pada mas Orde Baru. Tidak hanya itu, pada webinar kali ini juga beberapa narasumber hadir dalam memberikan sudut pandang lain soal Arief Budiman yang ternyata juga dikenal dalam beberapa karya sastra yang telah dia keluarkan.


Acara kemudian dibuka dengan kata sambutan dari pihak keluarga, yaitu Dr. Adrian Budiman. Dr. Adrian merupakan anak tertua dari Arief Budiman. Beliau kemudian menyoroti dan mengapresiasi rekonsiliasi yang telah dibangun oleh UKSW dalam satu tahun terakhir paska konflik tahun 1995. Dr. Adrian mendukung acara ini dilakukan secara gratis dan non-komersial, karena beliau yakin forum diskusi terbuka ini adalah salah satu hal favorit yang sering dilakukan oleh Ayahanda semasa hidupnya. Pembukaan berikutnya kemudian diberikan oleh Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Dr. Neil Semuel Rupidara. Pak Rektor kemudian menyambut positif kegiatan ini, dan hasil dari kegiatan dan diskusi yang ada dalam forum ini dirasa penting untuk perkembangan nilai-nilai Satya Wacana di masa-masa berikut.


Adapun pembicara yang hadir memeriahkan acara ini adalah Dr. Kamala Chandrakirana (Koordinator Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran), Prof. Nico Schulte Nordholt (Profesor Emeritus University of Twente, Belanda), Prof. Vedi Hadiz (University of Melbourne) dan juga pesan video dari Prof. Melani Budianta (Universitas Indonesia) dan juga Prof. Ariel Heryanto (Monash University). Ibu Kamala mengidentifikasi Arief Budiman dalam webinar kali ini sebagai aktivis sosial. Dengan presentasi yang berjudul “Dengar Gemericik Narasi Baru ... Jalan Panjang Menuju Kebenaran dan Keadilan” beliau memberikan narasi gerakan perjuangan panjang demokrasi di Indonesia. Prof. Nico kemudian menceritakan alasan-alasan personal yang diambil oleh Arief Budiman dalam perjalanan karier yang beliau telah ambil, terutama pilihan karier sebagai akademisi di kota kecil Salatiga, alih-alih Jakarta yang merupakan kota kelahirannya. Prof. Vedi Hadiz sebagai rekan sesama akademisi tempat beliau melanjutkan kariernya di Australia dan juga sebagai rekan diskusi beliau juga memberikan beberapa pandangan soal Arief Budiman setelah beliau keluar dari UKSW dan perjuangan awalnya di negara lain.


Acara ini bertambah menarik dari kiriman video yang dikirimkan oleh Prof. Melani Budianta (Univ. Indonesia) dan juga Prof. Ariel Heryanto (Monash University). Panitia kemudian mensisipkan video tersebut di tengah-tengah presentasi setelah Dr. Kamala dan juga Prof. Nico memberikan materi. Ini membuat para peserta webinar kemudian merasa padatnya acara yang selama 3 jam penuh berjalan tidak terasa terlalu membosankan dengan pendekatan ini. Video-video ini juga berisi materi dari sudut pandang yang berbeda soal Arief Budiman. Dimana Prof. Melani memberikan catatan soal rekam jejak beliau dengan kemampuan sastra yang dimiliki, dan Prof. Ariel sebagai sahabat Arief Budiman kemudian memberikan sebuah ucapan yang sangat komprehensif soal rekam jejak beliau selama berkarier baik di Salatiga maupun di Australia.


Akhirnya, acara ini meninggalkan impresi berbeda bagi setiap peserta webinar. Hadirnya para senior yang merupakan kerabat dan rekan beliau merasakan sensasi sebuah webinar dengan rasa alumni di dalamnya karena berkesempatan bertemu kembali dengan beberapa kawan lama yang telah terpisah jarak di tempat lain. Bagi peserta webinar yang berusia lebih muda tentu webinar ini menjadi sebuah acara penting yang kembali menegaskan nilai-nilai Satya Wacana sebagai lembaga pendidikan yang punya kekuatan sebagai penegak demokrasi Indonesia. Acara ini kemudian diharapkan dapat dilanjutkan di kemudian hari, mengingat nilai-nilai dan perjuangan Arief Budiman layak dikenang dan diperjuangkan. Seperti kata-kata Arief Budiman yang dikutip dalam video Prof. Ariel: “Kalau Mau Demokrasi, Jangan Minta-Minta.”